Penulis
Dengan lebih dari 200 anggota petani dan 21 karyawan tetap, Aspakusa membudidayakan sekitar 100 jenis sayuran, mulai dari kailan, jagung manis, hingga kentang.
Baca juga: Istana Wapres dan Masjid Negara IKN Ditargetkan Tuntas Akhir 2025
Mereka menerapkan praktik pertanian baik Good Agricultural Practices (GAP), menggunakan teknologi seperti greenhouse dan net paranet untuk memastikan kualitas dan pasokan yang stabil.
Hasilnya, sayuran segar dari Aspakusa tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok supermarket besar di Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya, serta perumahan elite di kota-kota tersebut.
Studi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Udayana menunjukkan bahwa Aspakusa berhasil memberdayakan petani anggotanya.
Melalui skema kemitraan, petani mendapatkan akses ke bimbingan teknis, benih unggul, pupuk, bahkan fasilitas keuangan.
Baca juga: Kabar Terbaru Proyek Tol IKN Seksi 1B Bandara Sepinggan-Tol Balsam
Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga kemandirian ekonomi para petani.
Dengan omzet Rp 100 juta lebih per bulan, Aspakusa tidak hanya menggenjot pendapatan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendukung sektor UMKM lokal.
Aspakusa telah membuktikan diri sebagai model sukses agribisnis berkelanjutan, dan kini, dengan potensi menjadi pemasok IKN, peran mereka bisa jauh lebih besar lagi dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang