Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 30 September 2025, 08:03 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Sambutan hangat dari Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimuljono, semakin memperkuat narasi kolaborasi ini.

"Dukungan dari DPR RI, khususnya melalui BAM, sangat penting dalam memastikan pembangunan IKN berjalan sesuai target. Kami harap bisa bersama-sama menjaga kualitas pembangunan sekaligus memastikan keberlanjutan IKN sebagai smart city, sponge city, dan forest city," ungkap Basuki.

Baca juga: Rp 65,3 Triliun Uang Swasta Mengalir ke IKN hingga September 2025

Basuki menambahkan, IKN dibangun dengan tiga pilar utama yakni smart city untuk integrasi teknologi digital dalam tata kelola; sponge city untuk ketahanan terhadap banjir melalui desain urban yang menyerap air; serta forest city untuk pelestarian hutan seluas 75 persen kawasan, menjadikan IKN sebagai model kota hijau di tengah krisis iklim global.

Otorita IKN sendiri terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, dari pemerintah pusat hingga daerah, serta melibatkan swasta dan masyarakat adat.

Data internal Otorita IKN menunjukkan bahwa hingga September 2025, progres Tahap II sudah mencapai 60 persen, dengan fokus pada infrastruktur dasar seperti jalan tol dan utilitas.

Dukungan BAM DPR RI diharapkan mempercepat fase relokasi ASN dan pembangunan simbolis seperti Istana Negara, yang direncanakan selesai 2026.

Tanpa kolaborasi ini, proyek sebesar IKN berisiko terhambat oleh birokrasi atau aspirasi lokal yang terabaikan.

Tantangan menuju ibu kota yang inklusif

Meski optimis, Adian tak buta terhadap tantangan. Pembangunan IKN di lahan seluas 256.000 hektar ini menghadapi isu seperti keterbatasan SDM lokal, dampak lingkungan, dan integrasi ekonomi dengan Kalimantan Timur.

Kunjungan BAM juga menjadi wadah untuk aspirasi masyarakat Balikpapan dan sekitarnya, yang khawatir akan inflasi harga dan migrasi penduduk.

Baca juga: Seluk Beluk IKN Ibu Kota Politik, Langkah Akselerasi Prabowo

Adian menjanjikan bahwa DPR akan mendorong program pemberdayaan UMKM lokal, agar IKN tak hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga katalisator pertumbuhan inklusif.

"IKN bukan sekadar pemindahan ibu kota dari Jakarta yang macet dan banjir; ia adalah manifestasi visi besar untuk mendesentralisasi pembangunan, mengurangi beban Jawa, dan membangun identitas baru Indonesia di pulau Borneo," cetusnya.

Dengan rampung 2027, IKN diharapkan fungsional sebagai ibu kota politik pada 2028, diikuti pemindahan bertahap lembaga negara hingga 2030.

Hal ini berpotensi menciptakan 1,7 juta lapangan kerja dan kontribusi Rp 466 triliun terhadap PDB nasional, menurut proyeksi Otorita IKN.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau