Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mahakam Investment Forum 2025 Sukses Jaring Investasi Rp 2,98 Triliun

Kompas.com, 11 Oktober 2025, 11:04 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Kemudian Kaltim Industrial Estate diincar oleh Ambassador Royal Embassy of Cambodia.

Dan terakhir, Crumb Rubber Factory mendapat antusiasme tinggi dari ATPD Sdn Bhd Brunei.

LoI dari nama-nama besar seperti PT Nestle Indonesia dan perusahaan global dari China dan Korea menunjukkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan prospek ekonomi Kaltim.

Peta minat investasi dalam MIF 2025 ini menunjukkan diversifikasi yang menarik sekaligus kompetitif.

"Investor dari China, Jepang, dan Korea Selatan menjadi kelompok dengan minat terbesar, sejalan dengan posisi Kaltim yang strategis di jalur perdagangan Asia Pasifik," urai Budi.

Baca juga: Financial Center IKN Dipercepat, BI: Fungsi Pembiayaan Paling Penting

Sementara investor dari kawasan Eropa, seperti Belanda dan Cekoslovakia, juga menunjukkan peminatan yang besar, khususnya pada proyek-proyek ekonomi berkelanjutan, mencerminkan komitmen pada Environmental, Social, and Governance (ESG) global.

Diplomasi Ekonomi di MIF 2025

Kredibilitas MIF 2025 diperkuat oleh kehadiran delegasi tingkat tinggi dari negara sahabat, sekaligus menunjukkan dukungan diplomatik terhadap inisiatif investasi ini.

Acara ini dihadiri oleh empat Duta Besar negara sahabat yakni Bahrain, Pakistan, Kamboja, dan Palestina.

Turut hadir Wakil Duta Besar dari Mesir dan Italia, serta Konjen Filipina, bersama staf kedutaan besar mitra lainnya.

Kehadiran diplomatik ini menggarisbawahi pentingnya Kaltim sebagai mitra investasi global.

Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda

Budi menjelaskan, ada tiga faktor utama yang meyakinkan para investor untuk membenamkan modalnya di Kaltim.

Pertama adalah dukungan regulasi dari Presiden Prabowo Subianto yang telah menetapkan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi Ibu Kota politik pada 2028.

Ketetapan itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025.

"Telah ditandatanganinya Keputusan Presiden (Keppres) terkait pembangunan IKN memberikan kepastian hukum," imbuh Budi.

Kedua, pembangunan IKN yang berlangsung progresif sehingga para delegasi dan calon investor yang berkesempatan melihat dan merasakan langsung merasa yakin.

"Ketiga adalah prospek masa depan IKN dan Kaltim sebagai superhub ekonomi di masa yang akan datang, didukung oleh potensi sumber daya yang sangat prospektif," tuntas Budi.

Kaltim kini tidak hanya dikenal karena batubara, tetapi sebagai gerbang Nusantara yang menawarkan Industri Hijau, Hilirisasi, dan Kota Cerdas, sejalan dengan visi IKN sebagai kota dunia untuk semua.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau