Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Visi Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai smart forest city yang dilengkapi moda transportasi futuristik harus menghadapi realitas pembangunan.
Kereta tanpa rel ini sempat menarik perhatian publik dengan uji coba di jalan protokol, dan mengaspal saat perayaan HUT ke-79 RI di IKN tahun 2024.
Kendati demikian, rencana penerapan Kereta Otonom Tanpa Rel atau Autonomous Rail Transit (ART) dan juga Taksi Terbang (Sky Taxi) secara resmi ditunda dan dipastikan tidak menjadi prioritas utama IKN dalam waktu dekat.
Baca juga: Proyek Jalan Tol IKN Dikebut, Harus Tuntas 2027
Keputusan ini dikuatkan oleh pernyataan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang menegaskan bahwa pembangunan IKN saat ini harus didasarkan pada urgensi dan relevansi fungsional di lapangan.
Keputusan menunda moda transportasi canggih ini didasarkan pada analisis pragmatis Otorita IKN, yang melibatkan tiga faktor utama, urgensi, teknologi, dan evaluasi.
Basuki berpendapat bahwa IKN belum memiliki urgensi untuk menerapkan teknologi semahal dan serumit ART atau Taksi Terbang karena populasi pengguna belum memadai.
“Mobil saja belum ada, mau naik taksi terbang. Jadi belum urgent sekarang, menurut saya," ujar Basuki menjawab pertanyaan Kompas.com.
Baca juga: Kereta Tanpa Rel dan Taksi Terbang IKN Tinggal Mimpi, Basuki: Tak Urgent
Fokus pemerintah saat ini adalah pada pembangunan ekosistem dasar yang lebih mendesak, yaitu kantor pemerintahan, hunian pegawai (ASN), dan penguatan konsep smart forest city sebelum memasukkan teknologi transportasi massal berkapasitas besar.
Basuki juga menyoroti bahwa teknologi canggih seperti ini akan terus berkembang pesat. Ia memperkirakan proyek transportasi masa depan baru bisa diterapkan secara matang antara tahun 2040 hingga 2045, di mana teknologi yang tersedia saat itu diprediksi akan jauh lebih baik dan efisien daripada temuan saat ini.
Meskipun bukan lagi prioritas, penundaan ART juga disebabkan oleh hasil evaluasi teknis yang kurang memuaskan.
Kereta otonom buatan CRRC Qingdao Sifang yang diuji coba di IKN telah dikembalikan ke China setelah masa Proof-of-Concept selesai.
Baca juga: Proyek Jalan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Telan Rp 3 Triliun
Hasil evaluasi menemukan bahwa sistem autonomous (otonom) pada trem tersebut belum dapat berfungsi dengan baik dan sering memerlukan intervensi manual.
Deputi Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN 2022-2025, Mohammed Ali Berawi, memastikan pengembalian unit ART ini tidak merugikan APBN, karena pembiayaan uji coba ditanggung sepenuhnya oleh pihak vendor CRRC dan Norinco.
"Tak ada uang negara (APBN) sepeser pun yang dikeluarkan untuk ART ini, baik saat pengiriman, buji coba, maupun pengembalian," ujar Ale beberapa waktu lalu kepada Kompas.com.
Alih-alih mengejar mimpi futuristik, Otorita IKN dan Pemerintah kini mengalihkan prioritas jangka pendek pada solusi transportasi hijau pada kendaraan Listrik (EV) Darat.
Baca juga: Membongkar Misteri Pendanaan IKN Tahap II, Dari Mana Sumbernya?
Prioritas utama dialihkan pada pengembangan bus listrik publik (EV Bus), yang ditargetkan mulai beroperasi di IKN pada tahun 2026.
Langkah ini dinilai Basuki, lebih realistis dan sejalan dengan komitmen IKN menuju transportasi hijau yang berkelanjutan, sekaligus membangun ekosistem EV darat yang mendukung mobilitas dasar ASN dan pekerja konstruksi.
Keputusan strategis ini menggarisbawahi bahwa pembangunan IKN dilakukan secara pragmatis.
Proyek infrastruktur dasar seperti jalan yang baru saja dikontrakkan senilai Rp 3 triliun dan fasilitas negara (Legislatif dan Yudikatif) harus diselesaikan terlebih dahulu untuk mendukung populasi yang ada, sebelum IKN beralih ke teknologi canggih.
Kereta Otonom Tanpa Rel adalah transportasi massal berbasis listrik yang menggunakan ban karet dan dipandu oleh teknologi navigasi otonom dan sensor Lidar, bukan rel konvensional.
Armada ini merupakan pabrikan CRRC Qingdao Sifang China dengan teknologi utama otonom, navigasi V2X, dan sensor lidar
Baca juga: Sah, Pembangunan Kompleks Legislatif dan Yudikatif IKN Dimulai
Kapasitas 300 orang dalam 3 gerbong hingga 500 orang dalam 5 gerbong, dengan kecepatan maksimum 70 kilometer per jam.
Keunggulan dari kereta tanta rel ini adalah biaya investasi lebih efisien karena tanpa harus membangun rel konvensional, dan ramah lingkungan bertenaga listrik.
Meskipun unit kereta tanpa rel ini telah dikembalikan dan rencana jangka pendek dibatalkan, Otorita IKN tidak sepenuhnya menutup pintu bagi teknologi ini.
Namun, penerapannya diposisikan sebagai fase pembangunan kota yang jauh lebih matang di masa depan, ketika kebutuhan dan dukungan ekosistem sudah benar-benar siap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang