Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Bayang-bayang krisis sampah yang kerap menghantui kota-kota besar di Indonesia tampaknya tidak akan diberi ruang di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Bertepatan dengan rangkaian menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Otorita IKN mulai tancap gas mengorkestrasi perubahan radikal: menyulap sisa konsumsi menjadi pundi-pundi ekonomi melalui ekosistem ekonomi sirkular.
Baca juga: Otorita Targetkan 60 Persen Sampah IKN Bisa Didaur Ulang
Pada Kamis (05/02/2026), Multifunction Hall Kantor Bersama 3 menjadi pusat gerakan "Memilah Sampah Menabung Emas".
Agenda ini merupakan implementasi nyata dari konsep Circular Economy di mana setiap gram plastik memiliki nilai tukar terhadap logam mulia.
Langkah agresif Otorita IKN ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian LHK, Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah per tahun pada 2024-2025.
Dari total volume sampah itu, 17 persen di antaranya adalah plastik yang sulit terurai.
Baca juga: Mengurai Gunung Sampah, Solusi Taktis Kota Penyangga IKN
Di kawasan IKN sendiri, seiring dengan masifnya pembangunan dan bertambahnya populasi ASN serta pekerja konstruksi, volume sampah diprediksi akan terus merangkak naik.
Namun, berbeda dengan daerah lain yang masih bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) konvensional, IKN menargetkan minimalisasi residu hingga titik terendah.
Kunci utama dari strategi "Cuan Sampah" di IKN adalah kolaborasi antara teknologi digital dan lembaga keuangan.
Melalui program Forsepi dan PT Pegadaian, warga IKN diajak untuk tidak membuang botol plastik ke tempat sampah umum, melainkan menyetorkannya untuk dikonversi menjadi saldo tabungan emas.
Ketua Umum Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepi), Mirna Dewi Sukmawati, menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan mengubah psikologi masyarakat.
Baca juga: TPST 1 IKN Jadi Acuan Pengelolaan Sampah Regional
"Kita ingin masyarakat melihat botol plastik bukan sebagai limbah, tapi sebagai aset. Melalui manajemen berbasis teknologi, sampah yang dipilah setara dengan investasi masa depan di rekening Pegadaian," tuturnya.
Deputi Bisnis Area Wilayah Regional Kalimantan PT Pegadaian, Pangalinan Matandung, menambahkan bahwa integrasi ini memperkuat ekosistem ekonomi sirkular di IKN.
"Masyarakat mendapatkan manfaat finansial langsung dari kedisiplinan menjaga lingkungan," imbuhnya.
Dukungan sektor swasta turut mempercepat digitalisasi pengelolaan sampah di IKN. Mayora Group melalui kampanye Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional (GESN) menyerahkan unit Reverse Vending Machine (RVM) dari Plasticpay kepada Otorita IKN.