Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Infrastruktur Energi IKN, Katalis Strategi Hidrogen Nasional

Kompas.com, 12 Mei 2024, 11:01 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Sumber Antara

NUSANTARA, KOMPAS.com - Indonesia kaya akan energi baru dan terbarukan (EBT), dan memiliki sumber daya air yang melimpah karena banyaknya danau, sungai, dan lautan, serta sinar matahari dan aliran angin yang bergerak konstan.

Potensi EBT yang sangat besar dapat dilihat sebagai salah satu kunci untuk mewujudkan visi nasional Indonesia Emas 2045.

Pemanfaatan EBT secara optimal diharapkan dapat membawa bangsa menuju pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Baca juga: Presiden Berkantor di IKN Juli 2024, Smart Defense System Diterapkan

Oleh karena itu, Indonesia memerlukan transisi dari energi berbasis fosil ke sumber energi ramah lingkungan. Dengan demikian, negara akan berhasil mencapai keberlanjutan, ketahanan, dan swasembada energi.

Hidrogen diyakini dapat membantu Indonesia mencapai tujuan tersebut. Karena bukan energi primer, maka hidrogen perlu diproduksi menggunakan teknologi tinggi.

Perlu dicatat bahwa mayoritas negara besar dunia sudah mulai mempertimbangkan pemanfaatan hidrogen untuk mencapai target emisi nol bersih (NZE) pada periode 2040-2070.

Main Hole Multi Utility Tunnel (MUT) Ibu Kota Nusantara (IKN).KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Main Hole Multi Utility Tunnel (MUT) Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam hal ini, Indonesia memiliki potensi hidrogen yang sangat besar. Sebagai negara kepulauan, Indonesia berpeluang mendongkrak perekonomiannya melalui hidrogen.

Hal ini mengingat statusnya sebagai tuan rumah beberapa jalur pelayaran internasional penting, antara lain Selat Malaka, Laut Jawa, dan Selat Makasar.

Sayangnya, Indonesia belum memanfaatkan potensi hidrogennya secara optimal. Hidrogen yang beredar di Indonesia sebagian besar dihasilkan dari gas alam dan cenderung digunakan di sektor industri sebagai bahan baku pembuatan pupuk.

Baca juga: 14 Juli, Lapangan, Ruang Ganti, dan Dormitory PSSI Training Center di IKN Jadi

Negara Asia Tenggara ini telah mengonsumsi sekitar 1,75 juta ton hidrogen setiap tahunnya, sebanyak 88 persennya digunakan untuk memproduksi pupuk urea, empat persen untuk amonia, dan dua persen untuk aktivitas di kilang minyak.

Faktanya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan kebutuhan hidrogen rendah karbon nasional akan mengalami peningkatan yang signifikan pada periode 2031-2060.

Pemerintah telah mengeluarkan Strategi Nasional Hidrogen untuk mendorong pemanfaatan hidrogen sebagai EBT. 

Multi Utility Tunnel (MUT) di Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Multi Utility Tunnel (MUT) di Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat Ibu Kota Nusantara (IKN)
Strategi tersebut mengharuskan Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil, mengejar target dekarbonisasi dengan mengembangkan pasar hidrogen dalam negeri, dan mengekspor hidrogen dan turunannya ke pasar global.

Katalis dipandang perlu untuk menyukseskan strategi nasional. Ibu Kota Nusantara (IKN), yang sedang dibangun di Kalimantan Timur, dianggap sebagai katalis yang dibutuhkan negara.

Baca juga: Bandara VVIP IKN Bakal Melayani Penerbangan Komersial

Pertanyaannya adalah apakah IKN mampu menjadi katalis yang dibutuhkan?

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau