Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Infrastruktur Energi IKN, Katalis Strategi Hidrogen Nasional

Kompas.com, 12 Mei 2024, 11:01 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Sumber Antara

Strategi Tiga Kota

Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan swasta dalam dan luar negeri mengembangkan dan mencita-citakan IKN sebagai kota hutan cerdas (smart forest city) dengan tujuan mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Pusat pemerintahan masa depan juga akan menjadi kota pertama di Indonesia yang dinyatakan berhasil mencapai target NZE.

IKN diperkirakan akan mencapai target tersebut pada tahun 2045, atau 15 tahun lebih cepat dari target nasional yang ditetapkan pada tahun 2060.

Agar IKN bisa mencapai prestasi tersebut, pemerintah harus memanfaatkan EBT untuk memenuhi kebutuhan listrik kota.

Strategi infrastruktur energi IKN mengutamakan penggunaan hidrogen sebagai gas ramah lingkungan yang berperan penting dalam aktivitas sehari-hari warganya.

Baca juga: Karpet Merah Buat Investor di IKN, Bisa Dapat HGB hingga 160 Tahun

Langkah pertama untuk mencapai target tersebut adalah dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 50 megawatt.

Langkah ini mampu melakukan metode yang biasa disebut elektrolisis yang melibatkan penguraian senyawa air (H20) menjadi oksigen (O2) dengan memanfaatkan arus listrik untuk menghasilkan apa yang disebut ramah lingkungan. 

Cara ini memungkinkan IKN menghasilkan pasokan hidrogen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik penduduknya. Rencananya, gas hidrogen akan didistribusikan melalui multi-utility tunnel (MUT).

MUT merupakan infrastruktur yang dibangun di bawah jalan utama dan memiliki tiga kompartemen yang masing-masing berukuran tinggi 2,2 meter sehingga memungkinkan maksimal dua teknisi untuk melakukan inspeksi dan perbaikan.

Baca juga: Investor IKN Bisa Dapat HGU hingga 190 Tahun, Ini Syaratnya

MUT diharapkan dapat membantu IKN memenuhi kebutuhan jaringan pipa yang layak untuk transisi penggunaan hidrogen sebagai energi utama.

Infrastruktur tersebut akan memfasilitasi distribusi gas hidrogen kepada masyarakat, dunia usaha, dan industri, sehingga menghilangkan kebutuhan untuk menata ulang jaringan pipa yang ada dan mengeluarkan dana yang besar.

Multi Utility Tunnel (MUT) di Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Multi Utility Tunnel (MUT) di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Baik pembangkit listrik tenaga surya maupun MUT diharapkan dapat mendukung peran IKN sebagai katalisator untuk menekan ketergantungan nasional terhadap bahan bakar fosil sekaligus memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sebagaimana diamanatkan oleh Strategi Nasional Hidrogen.

Kini tinggal bagaimana IKN menjadi katalis dalam melaksanakan amanat ketiga strategi nasional, yakni mengekspor hidrogen ke pasar internasional. Strategi Tiga Kota muncul sebagai solusinya.

Baca juga: 17 Agustus 2024, Bandara VVIP IKN Bisa Didarati 3 Pesawat

Melalui strategi tersebut, pemerintah membayangkan sebuah segitiga yang terdiri dari tiga kota berketahanan ekonomi di Kalimantan Timur, yaitu IKN, Balikapapan, dan Samarinda.

Strategi tersebut menempatkan IKN sebagai pusat perekonomian dan inovasi energi ramah lingkungan, Samarinda sebagai distributor utama EBT rendah karbon ke Brunei Darussalam dan negara bagian Sabah dan Sarawak di Malaysia melalui jalur darat, dan Balikpapan sebagai pusat ekspor energi ke negara-negara Asia Tenggara lainnya melalui laut.

Dengan sinergi ketiga kota tersebut, Provinsi Kalimantan Timur diproyeksikan akan menjadi superhub ekonomi baru dan provinsi pertama yang mengekspor hidrogen ramah lingkungan di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika IKN dianggap sebagai salah satu kunci penerapan Strategi Nasional Hidrogen yang bertujuan untuk mencapai target NZE dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Penulis: Aji C, Tegar Nurfitra 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau