Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IKN Telan APBN Ratusan Triliun, PKB: Jangan Sampai Proyek Mercusuar Gagal

Kompas.com, 26 Juli 2025, 16:24 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menjadi sorotan, terutama terkait target penyelesaiannya yang ambisius.

Anggota Komisi V DPR RI dari PKB, Sudjatmiko, menanggapi lambannya perkembangan IKN dan mengingatkan agar proyek prestisius yang menelan anggaran fantastis ini tidak berakhir sebagai "proyek mercusuar" yang terbengkalai.

Proyek IKN bukan main-main. Pada Tahap I, dana sebesar Rp 86 triliun berasal dari APBN, ditambah Rp 58 triliun dari swasta.

Sementara pada Tahap II, APBN kembali memikul beban sebesar Rp 48,8 triliun.

Baca juga: Istana Angkat Bicara: Pembangunan Inti IKN Rampung dalam 3 Tahun

Angka-angka ini menunjukkan besarnya investasi negara dalam proyek ini, yang menurut Sudjatmiko, menciptakan potensi kerawanan dalam pembangunannya.

Miko, sapaan akrabnya, berharap agar Otorita IKN dapat menyelesaikan pembangunan sesuai target.

Namun, ia juga memberikan peringatan keras. "Jika target tiga tahun selesai maka dipastikan rampung betul. Jangan sampai hanya dibangun dengan kejar target lalu pembangunan asal kerja saja," tegas Miko dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (26/07/2025).

Ia menuturkan, proses pembangunan IKN membutuhkan perhatian serius secara transparansi, keberlanjutan, dan pelibatan masyarakat lokal. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan visi Presiden Prabowo.

Jangan Sampai Jadi Beban

Selain kecepatan pembangunan, Miko juga menyoroti catatan penting terkait ketersediaan infrastruktur dasar dan jaminan layanan publik yang berkualitas bagi para pekerja di IKN.

Lebih lanjut, ia menekankan perlunya kajian komprehensif terkait perlindungan kepada masyarakat adat, pelestarian lingkungan hutan tropis, serta dampak sosial ekonomi lainnya.

Baca juga: BPN Kaltim Gaspol Evaluasi dan Pengadaan Lahan Tol Akses IKN

"Jangan sampai proyek ini jadi ambisi besar yang malah jadi beban jangka panjang akibat dari kurang pelibatan masyarakat dalam perencanaannya," tandas Miko.

Ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga aspek kemanusiaan dan lingkungan.

Bukan Hanya Simbol Rezim

Sebagai perwakilan dari PKB, Miko menyatakan dukungan penuhnya terhadap upaya pembangunan IKN.

Namun, kritik yang disampaikannya merupakan dorongan agar IKN bukan sekadar simbol rezim, melainkan benar-benar menjelma menjadi simbol kemajuan demokrasi, lingkungan berkelanjutan, dan keadilan sosial.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Tak Ada Moratorium, Proyek IKN Terus Berlanjut

"Kami mendukung usaha pemerintah yang optimis mengejar pembangunan IKN, tapi harus dilandasi dengan niat tulus membangun negeri," tutupnya.

Pesan ini menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa di balik megahnya proyek IKN, ada harapan besar dan tanggung jawab moral untuk memastikan keberlanjutan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau