Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sempat Mengaspal di Jalan Protokol IKN, Kereta Tanpa Rel Resmi Batal

Kompas.com, 5 November 2025, 09:43 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Visi Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai smart forest city yang dilengkapi moda transportasi futuristik harus menghadapi realitas pembangunan.

Kereta tanpa rel ini sempat menarik perhatian publik dengan uji coba di jalan protokol, dan mengaspal saat perayaan HUT ke-79 RI di IKN tahun 2024.

Kendati demikian, rencana penerapan Kereta Otonom Tanpa Rel atau Autonomous Rail Transit (ART) dan juga Taksi Terbang (Sky Taxi) secara resmi ditunda dan dipastikan tidak menjadi prioritas utama IKN dalam waktu dekat.

Baca juga: Proyek Jalan Tol IKN Dikebut, Harus Tuntas 2027

Keputusan ini dikuatkan oleh pernyataan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang menegaskan bahwa pembangunan IKN saat ini harus didasarkan pada urgensi dan relevansi fungsional di lapangan.

Urgensi, Teknologi, dan Evaluasi

Keputusan menunda moda transportasi canggih ini didasarkan pada analisis pragmatis Otorita IKN, yang melibatkan tiga faktor utama, urgensi, teknologi, dan evaluasi.

Basuki berpendapat bahwa IKN belum memiliki urgensi untuk menerapkan teknologi semahal dan serumit ART atau Taksi Terbang karena populasi pengguna belum memadai.

“Mobil saja belum ada, mau naik taksi terbang. Jadi belum urgent sekarang, menurut saya," ujar Basuki menjawab pertanyaan Kompas.com.

Baca juga: Kereta Tanpa Rel dan Taksi Terbang IKN Tinggal Mimpi, Basuki: Tak Urgent

Fokus pemerintah saat ini adalah pada pembangunan ekosistem dasar yang lebih mendesak, yaitu kantor pemerintahan, hunian pegawai (ASN), dan penguatan konsep smart forest city sebelum memasukkan teknologi transportasi massal berkapasitas besar.

Basuki juga menyoroti bahwa teknologi canggih seperti ini akan terus berkembang pesat. Ia memperkirakan proyek transportasi masa depan baru bisa diterapkan secara matang antara tahun 2040 hingga 2045, di mana teknologi yang tersedia saat itu diprediksi akan jauh lebih baik dan efisien daripada temuan saat ini.

Meskipun bukan lagi prioritas, penundaan ART juga disebabkan oleh hasil evaluasi teknis yang kurang memuaskan.

Kereta otonom buatan CRRC Qingdao Sifang yang diuji coba di IKN telah dikembalikan ke China setelah masa Proof-of-Concept selesai.

Baca juga: Proyek Jalan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Telan Rp 3 Triliun

Hasil evaluasi menemukan bahwa sistem autonomous (otonom) pada trem tersebut belum dapat berfungsi dengan baik dan sering memerlukan intervensi manual.

Tidak Merugikan Negara

Deputi Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN 2022-2025, Mohammed Ali Berawi, memastikan pengembalian unit ART ini tidak merugikan APBN, karena pembiayaan uji coba ditanggung sepenuhnya oleh pihak vendor CRRC dan Norinco.

"Tak ada uang negara (APBN) sepeser pun yang dikeluarkan untuk ART ini, baik saat pengiriman, buji coba, maupun pengembalian," ujar Ale beberapa waktu lalu kepada Kompas.com.

Alih-alih mengejar mimpi futuristik, Otorita IKN dan Pemerintah kini mengalihkan prioritas jangka pendek pada solusi transportasi hijau pada kendaraan Listrik (EV) Darat.

Baca juga: Membongkar Misteri Pendanaan IKN Tahap II, Dari Mana Sumbernya?

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau