Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada 10 Titik Rawan Banjir di IKN, Bagaimana Otorita Mengatasinya?

Kompas.com, 3 Desember 2025, 09:37 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang sebagai simbol masa depan Indonesia: sebuah kota modern, cerdas, dan berkelanjutan.

Namun, pembangunan di tengah lanskap tropis Kalimantan Timur membawa tantangan alamiah, salah satunya adalah potensi banjir.

Sejarah Kalimantan yang akrab dengan fluktuasi air, ditambah dengan data mengenai titik rawan banjir di wilayah calon ibu kota, menuntut pendekatan inovatif dan komprehensif.

IKN tak hanya ingin menghindari kesalahan masa lalu seperti Jakarta, tetapi bertekad menjadi pionir dalam resiliensi lingkungan.

Baca juga: Padi Gogo, Solusi Strategis untuk Ketahanan Pangan IKN

Otorita IKN mengambil langkah strategis dengan menggandeng para ahli dari Monash University, Australia, untuk merancang dan membangun IKN.

Kolaborasi ini berfokus pada penerapan konsep "kota tanggap air" atau sponge city. Konsep  yang lahir di Australia sejak 1990-an dan telah sukses diterapkan di berbagai kota di seluruh dunia, menjadi solusi inovatif untuk mengatasi masalah lingkungan serius seperti banjir dan kekeringan.

Profesor Tony Wong dari Monash University menjelaskan, inti dari sponge city adalah memanfaatkan infrastruktur hijau untuk meniru proses alami pengelolaan air, seperti filtrasi, drainase, dan penyimpanan.

"Penerapan konsep ini telah membantu mentransformasi kota-kota di Australia dan berbagai negara lain, terutama dalam desain infrastruktur, kebijakan air, dan tata kelola," jelas Wong, dikutip Kompas.com, Rabu (2/12/2025).

Baca juga: Otorita Targetkan 60 Persen Sampah IKN Bisa Didaur Ulang

Di IKN, konsep ini akan diwujudkan dengan elemen-elemen seperti lahan basah (wetlands), saluran air dangkal (swales), dan perkerasan berpori (porous pavement).

Infrastruktur ini berfungsi ganda: membersihkan air hujan melalui biofiltrasi dan secara signifikan mengurangi risiko banjir serta kontaminasi lingkungan.

Pelatihan yang didukung oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dan pemerintah Australia ini akan membekali pejabat Otorita IKN dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merancang kota yang tangguh terhadap krisis air dan perubahan iklim.

Tantangan Banjir di IKN

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Harold Pantouw, tidak menampik potensi banjir di IKN.

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2020-2024, terdapat 10 titik rawan banjir di IKN.

Desa-desa dengan potensi banjir tinggi meliputi Teluk Dalam, Bukit Raya, Sungai Seluang, Muara Jawa Ulu, dan Samboja Kuala di Kecamatan Samboja dan Muara Jawa, serta Desa Bumi Harapan, Kelurahan Mentawir, Desa Suka Raja, Wonosari, dan Tengin Baru di Kecamatan Sepaku.

Baca juga: Ekonomi Kaltim Bakal Tumbuh hingga 5,3 Persen, Dipicu IKN dan Migas

Penyebab potensi banjir ini multifaktorial: "Potensi banjir ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti belum optimalnya tata ruang, curah hujan tinggi, kenaikan muka air laut, dan pembukaan lahan di hulu sungai," ujar Troy dikutip dari pemberitaan Kompas.com.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau