Penulis
Troy memastikan, Otorita IKN terus melakukan upaya pencegahan banjir secara holistik melalui enyediaan rekomendasi kebijakan melalui Dokumen Kajian Risiko Bencana, evaluasi tata ruang berdasarkan kondisi eksisting area rawan banjir.
Selain itu, memantau dan mengawasi tutupan lahan di hulu sungai, pembangunan infrastruktur fisik pengendali banjir, rehabilitasi lahan berupa penanaman tanaman berdaya serap air tinggi.
Baca juga: Perkembangan Terbaru Istana Wapres di IKN, Tembus 86 Persen
Kemudian menerapkan sistem pemantauan berbasis teknologi, mencegah pembukaan lahan dan praktik ilegal lain yang memicu banjir.
"Jika diperlukan, merelokasi masyarakat untuk keamanan di area rawan banjir," imbuh Troy.
Untuk mendukung visi smart forest city, Otorita IKN juga mengimplementasikan Smart Water Management System (SWMS).
Sistem ini diperkuat dengan pengembangan sistem pemantauan berbasis sensor Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi titik rawan banjir secara dini.
"Kami juga melakukan pemetaan aliran sungai dan analisis topografi dengan teknologi GIS, serta menjalin kerja sama dengan BMKG untuk prediksi curah hujan," ujar Troy.
Baca juga: Mengungkap Progres Istana Wapres, Kantor Gibran Bekerja di IKN
Seluruh teknologi ini telah terintegrasi dengan Integrated Command and Control Center (ICCC) sejak akhir 2024, memungkinkan pemantauan dan respons yang lebih cepat terhadap potensi banjir.
Selain itu, upaya pengendalian banjir juga dilakukan melalui penerapan konsep Zero Delta Q (tidak ada penambahan debit air ke sungai) dan Water Sensitive Urban Development (WSUD).
Selain mitigasi banjir, komitmen IKN terhadap lingkungan juga terwujud dalam program reforestasi lahan kritis.
Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2025, lebih dari 3.000 hektar lahan di IKN telah berhasil direforestasi dari total 126.000 hektar.
Baca juga: Raksasa Singapura Sembcorp, Investor PLTS Perdana di IKN Tanam Rp 900 Miliar
"Target selanjutnya adalah menambah 1.000 hektar lagi pada tahun ini, sehingga total reforestasi akan mencapai 4.000 hektar," ujar Myrna menjawab Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Upaya reforestasi ini merupakan langkah krusial dalam mewujudkan ekosistem yang lestari, dengan target jangka panjang tercapai pada 2045.
Kabar baiknya, sebagian besar upaya ini mendapatkan dukungan signifikan dari pihak swasta, menjadi modal penting dalam mempercepat pemulihan vegetasi dan menciptakan koridor ekologi yang mendukung keanekaragaman hayati.
IKN juga menunjukkan perhatian terhadap konservasi satwa liar, termasuk orangutan. Penetapan lokasi rehabilitasi Kawasan Lindung IKN Samboja Lestari sebagai hotspot keanekaragaman hayati menjadi langkah konkret.
Baca juga: Serapan Anggaran Otorita IKN Baru Rp 4,99 Triliun