Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada 10 Titik Rawan Banjir di IKN, Bagaimana Otorita Mengatasinya?

Kompas.com, 3 Desember 2025, 09:37 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Troy memastikan, Otorita IKN terus melakukan upaya pencegahan banjir secara holistik melalui enyediaan rekomendasi kebijakan melalui Dokumen Kajian Risiko Bencana, evaluasi tata ruang berdasarkan kondisi eksisting area rawan banjir.

Selain itu, memantau dan mengawasi tutupan lahan di hulu sungai, pembangunan infrastruktur fisik pengendali banjir, rehabilitasi lahan berupa penanaman tanaman berdaya serap air tinggi.

Baca juga: Perkembangan Terbaru Istana Wapres di IKN, Tembus 86 Persen

Kemudian menerapkan sistem pemantauan berbasis teknologi, mencegah pembukaan lahan dan praktik ilegal lain yang memicu banjir.

"Jika diperlukan, merelokasi masyarakat untuk keamanan di area rawan banjir," imbuh Troy.

Teknologi Canggih dan Smart Water Management System

Untuk mendukung visi smart forest city, Otorita IKN juga mengimplementasikan Smart Water Management System (SWMS).

Sistem ini diperkuat dengan pengembangan sistem pemantauan berbasis sensor Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi titik rawan banjir secara dini.

"Kami juga melakukan pemetaan aliran sungai dan analisis topografi dengan teknologi GIS, serta menjalin kerja sama dengan BMKG untuk prediksi curah hujan," ujar Troy.

Baca juga: Mengungkap Progres Istana Wapres, Kantor Gibran Bekerja di IKN

Seluruh teknologi ini telah terintegrasi dengan Integrated Command and Control Center (ICCC) sejak akhir 2024, memungkinkan pemantauan dan respons yang lebih cepat terhadap potensi banjir.

Selain itu, upaya pengendalian banjir juga dilakukan melalui penerapan konsep Zero Delta Q (tidak ada penambahan debit air ke sungai) dan Water Sensitive Urban Development (WSUD).

Reforestasi

Selain mitigasi banjir, komitmen IKN terhadap lingkungan juga terwujud dalam program reforestasi lahan kritis.

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2025, lebih dari 3.000 hektar lahan di IKN telah berhasil direforestasi dari total 126.000 hektar.

Baca juga: Raksasa Singapura Sembcorp, Investor PLTS Perdana di IKN Tanam Rp 900 Miliar

"Target selanjutnya adalah menambah 1.000 hektar lagi pada tahun ini, sehingga total reforestasi akan mencapai 4.000 hektar," ujar Myrna menjawab Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Upaya reforestasi ini merupakan langkah krusial dalam mewujudkan ekosistem yang lestari, dengan target jangka panjang tercapai pada 2045.

Kabar baiknya, sebagian besar upaya ini mendapatkan dukungan signifikan dari pihak swasta, menjadi modal penting dalam mempercepat pemulihan vegetasi dan menciptakan koridor ekologi yang mendukung keanekaragaman hayati.

IKN juga menunjukkan perhatian terhadap konservasi satwa liar, termasuk orangutan. Penetapan lokasi rehabilitasi Kawasan Lindung IKN Samboja Lestari sebagai hotspot keanekaragaman hayati menjadi langkah konkret.

Baca juga: Serapan Anggaran Otorita IKN Baru Rp 4,99 Triliun

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau