Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kontras Ekonomi Penyangga IKN: Balikpapan Deflasi, PPU Inflasi

Kompas.com, 4 Oktober 2025, 13:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Dua wilayah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menunjukkan dinamika ekonomi yang kontras pada September 2025.

Balikpapan berhasil mencatatkan deflasi 0,06% (mtm), sedangkan PPU justru mengalami inflasi 0,07% (mtm).

Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap

Perbedaan tipis ini mengungkap sensitivitas ekonomi di sekitar IKN, di mana efisiensi distribusi logistik dan hasil panen musiman menjadi penentu utama daya beli masyarakat.

Meski begitu, target inflasi nasional (2,5%   1%) masih aman terkendali di kedua wilayah, dengan realisasi Balikpapan (1,15% yoy) jauh di bawah batas bawah.

Balikpapan: Kado Deflasi dari Dapur dan Distribusi

Deflasi di Balikpapan didorong oleh anjloknya harga di Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil deflasi signifikan sebesar 0,16% (mtm).

Komoditas penyelamat deflasi adalah penurunan harga Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT) yang didorong oleh menurunnya biaya operasional distribusi, sekaligus mengindikasikan kelancaran pasokan energi.

Baca juga: Menkeu Baru, BI Kaltim Ungkap Strategi Jaga Ekonomi Daerah

Kemudian melimpahnya pasokan bawang merah dan tomat dari sentra produksi (Sulawesi dan Jawa) di tengah permintaan yang stabil berhasil menekan harga.

Selanjutnya peningkatan pasokan cabai rawit dan kangkung dari sentra produksi dan produksi lokal yang didukung cuaca baik meredam gejolak harga.

Alarm Inflasi: Transportasi dan Emas

Di sisi lain, alarm inflasi Balikpapan berbunyi nyaring dari Kelompok Transportasi yang memberikan andil 0,14%.

Kenaikan tarif Angkutan Udara setelah diskon dicabut dan tingginya permintaan untuk aktivitas kedinasan menjadi pemicunya.

Baca juga: BI Rate Turun, Sektor Properti dan Otomotif Balikpapan Kian Menggeliat

Sementara itu, Emas Perhiasan menjadi sorotan setelah menyentuh nilai tertinggi sepanjang masa (Rp 2,1 Juta/gram) akibat tren harga emas dunia yang terus menguat.

PPU: Perayaan Maulid Nabi dan Gelombang Tinggi Memicu Inflasi

Berbeda dengan Balikpapan, IHK PPU mengalami inflasi 0,07% (mtm). Penyumbang inflasi terbesar adalah Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.

Komoditas Pendorong Inflasi mencakup kenaikan harga daging ayam ras yang kuat akibat meningkatnya permintaan sejalan dengan perayaan Maulid Nabi pada awal September 2025.

Kenaikan harga ikan tongkol dan layang yang didorong oleh terbatasnya pasokan akibat kondisi gelombang laut yang tinggi dan mengurangi jumlah nelayan melaut, serta penundaan penebaran benih budidaya Ikan Bandeng juga ikut mendorong inflasi.

Baca juga: Sambut Lebaran 2025, BI Balikpapan Siapkan Uang Kartal Rp 1,99 Triliun

Kenaikan harga beras yang disebabkan oleh stok beras premium terbatas karena pasokan dari Jawa tertunda, adalah komoditas pendorong inflasi PPU.

Meskipun Inflasi PPU lebih tinggi dari nasional (2,83% yoy vs 2,65% yoy), deflasi dari komoditas pangan seperti Bawang Merah, Cabai Rawit, dan hasil panen lokal (Terong dan Kangkung) yang melimpah berhasil menahan laju inflasi agar tetap berada dalam rentang sasaran nasional.

Optimisme Konsumen yang Kuat Diuji Risiko Cuaca

Meskipun tekanan harga pangan terlihat, optimisme konsumen di Balikpapan tetap kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan tercatat di level optimis 118,3 (meski turun sedikit dari 129,8), menandakan keyakinan tinggi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan.

Namun, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mewanti-wanti adanya risiko tekanan inflasi ke depan dari dua faktor alam.

Seperti hujan berlanjut yang merupakan risiko pada pasokan komoditas hortikultura dari daerah sentra produksi.

Baca juga: Financial Center IKN Dipercepat, BI: Fungsi Pembiayaan Paling Penting

Kemudian gelombang laut tinggi yang mengancam ketersediaan pasokan produk perikanan, mengingat kuatnya permintaan.

"Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, BI Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan dan PPU akan terus bersinergi melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)," tutur Robi, Jamat (3/10/2025).

Strategi yang dicanangkan meliputi perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), pelaksanaan gelar pangan murah, dan dorongan untuk pemanfaatan lahan pekarangan untuk komoditas hortikultura, memastikan ketersediaan pasokan pangan yang stabil di jantung pembangunan IKN.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau