Penulis
Warga kini menuntut peran aktif BBT untuk memberikan solusi keamanan dan pengawalan di lokasi relokasi, serta bantuan pemberdayaan (bibit dan permodalan) agar mereka dapat memulai kembali menata mata pencarian tanpa rasa takut.
Harapan terbesar bagi 900 subjek yang terlibat dalam program ini adalah terpenuhinya janji negara: Sertifikat Hak Pakai mereka benar-benar memberikan manfaat ekonomi, terlindungi dari oknum, dan pada akhirnya, dapat ditingkatkan menjadi Hak Milik setelah 10 tahun.
Ada pun hingga Desember 2025, Bandara VVIP Nusantara dengan kode ICAO, WALK, telah beroperasi dengan status khusus (non-komersial) sejak 12 Juni 2025.
"Sisi udara sudah rampung 100 persen. Kini kami tengah menyelesaikan bangunan pendukung operasional Bandara," ungkap Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan.
Baca juga: Delegasi Hainan dan Shenzhen Merapat ke IKN, Bidik Peluang Investasi
Bandara VVIP Nusantara akan berubah status menjadi bandara komersial dengan kapasitas dapat didarati pesawat berbadan lebar B777 dan Boeing A380, dan ditargetkan bisa melayani publik pada 2026 mendatang.
Kisah pembangunan Bandara VVIP IKN menjadi narasi penting yang menegaskan bahwa pembangunan megastruktur nasional dapat berjalan beriringan dengan keadilan agraria, asalkan negara (melalui BBT) tidak berhenti pada pemberian sertifikat, melainkan terus mengawal keamanan dan pemberdayaan di tanah baru warga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang