Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Muda di Antara Kegelisahan dan Negosiasi Pembangunan IKN

Kompas.com, 3 Juni 2024, 07:52 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Selama dua hari Sabtu (1/6/2024) dan Minggu (2/6/2024), anak-anak muda dari 40 kota di seluruh Indonesia berkumpul dalam acara Youth City Changers (YCC) di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

YCC merupakan bagian dari rangkaian agenda Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) XVII Tahun 2024.

Mereka menumpahkan seluruh ide dan gagasan untuk menjawab keresahan dan kegelisahan selama ini akan pembangunan di kotanya masing-masing.

Terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), misalnya, selain menganggapnya sebagai kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas diri, mereka juga ingin dilibatkan dan suaranya didengar.

Baca juga: Sehari Bersama Operator TC Proyek IKN, Bertaruh Nyawa demi Rasa Bangga

"Kami ingin ada negosiasi-negosiasi yang tidak hanya membawa kepentingan sendiri, juga kepentingan-kepentingan bersama. Kami ingin saling bersinergi, berkolaborasi, untuk menjawab permasalahan-permasalahan saat ini," ujar Daffa Nayudhistira, pemenang Best Performers YCC 2024 asal Depok, Jawa Barat.

Sebagai anak muda yang perduli pada pembangunan perkotaan, Daffa berharap Pemerintah juga memperhatikan risiko-risiko pembangunan di IKN.

Terutama masalah deforestasi yang terjadi saat ini, karena wilayah pengembangan IKN merupakan paru-paru dunia.

Menurutnya, risiko pembangunan dalam bentuk deforestasi harus diminimalisasi, walaupun hutan ditebang, tapi harus dipulihkan kembali.

"Kami membahas pembangunan IKN bersama teman-teman dari Kalimantan dan Apeksi, bagaimana merancang pembangunan ke depan, menyeragamkan visi, dan melakukan harmonisasi," tutur Daffa.

Baca juga: Pos Indonesia Dukung Konsep Logistik Hijau di IKN

Selain itu, ia ingin sekali ada pemberdayaan pemuda di Kalimantan, agar nantinya kualitas dan kapasitas mereka setara dengan pemuda di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya di seluruh Indoensia.

Sementara Alham Naufal Mahendra, pemenang Best Delegation asal Cimahi, mendesak pemerintah untuk menduplikasi pengelolaan sampah dengan menggunakan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF).

Alham mengatakan, penggunaan maggot ini bisa mengurangi timbulan sampah, terutama sampah organik yang dihasilkan rumah tangga.

Budidaya maggot sangat bermanfaat untuk pengelolaan sampah, dan bisa mengurangi beban biaya pembuangan sampah.

Baca juga: Kehadiran IKN Dorong Pembangunan Merata di Seluruh Indonesia

Alham pun berharap pemerintah di seluruh Indonesia segera mengadopsi budidaya maggot yang selain dapat mengurangi timbulan sampah, juga dapat menggerakan ekonomi secara sirkular.

"Anak-anak muda bisa ikut diberdayakan dalam pengelolaan sampah ini yang ternyata bisa menghasilkan dan bernilai ekonomi. Metode organik ini juga berkelanjutan, maggot bisa dijual ke peternak sebagai pakan, dan kompos, berguna untuk menyuburkan tanaman dan bisa dijual ke petani. Ini ekonomi sirkular," terang Alham.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau