Penulis
Dalam idiom Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Danis HIdayat Sumadilaga, the devil is in the details (masalah justru ada dalam hal-hal rinci).
"Idiom ini mengacu pada tangkapan atau elemen misterius yang tersembunyi dalam sesuatu yang rinci, detail. Ini menunjukkan bahwa sesuatu mungkin tampak sederhana, tetapi kenyataannya perinciannya rumit dan cenderung menimbulkan masala," jelas Danis.
Bangunan Istana Negara sendiri dirancang dengan tampilan monumental dan simetris yang dominan, diimplementasikan pada wajah depan Istana dengan pilar-pilar tinggi sejumlah 34 pilar.
Baca juga: Progres 88 Persen, Rumah Jabatan Menteri di IKN Harus Kelar Juli Ini
Konsep keseimbangan bukan hanya pada tampilan bangunan namun juga secara keseluruhan kawasan.
Selain itu, bangunan juga didesain tanggap iklim dan meminimalisasi perubahan terhadap bentuk dan kondisi topografi tapak.
Area TerasLantai bangunan Istana Negara dilapisi marmer, parket, dan homogenous tile (HT). Dan khusus lantai lobby, dilapisi marmer hijau Juparana.
Menurut Eko, marmer pelapis lantai yang digunakan merupakan produksi lokal, didatangkan langsung dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Ruang Kegiatan Resmi"Tak hanya itu, pada ornamen dinding terdapat artwork dan cat tekstur," cetus Eko.
Berlanjut ke plafon Istana Negara yang terbuat dari gypsum, kayu solid, veneer, ukiran kayu dan tembaga.
Ruang KredensialAdapun atap bangunan mencakup bitumen dan roof garden. Sedangkan unsur sanitary-nya terdiri dari sanitary VVIP, VIP, dan umum
Sedangkan penataan lanskap-nya dirancang dengan luas area tanam 109.932 meter persegi, dengan 40 persen tanaman endemik 40 persen, dan 60 persen tanaman non-endemik.
"Hal ini karena IKN dirancang sebagai smart city forest. Jadi penataan lanskapnya pun harus mengacu pada konsep itu," cetus Eko.